Kata Pengantar untuk Buku: Ujian Nasional: Kelulusan vs Kejujuran. Penulis: Syafbrani bin Zainoeddin. Penerbit Leutica, Yogyakarta, 2011
Bagi saya, sekolah itu ibarat sebuah kebun masa depan. Apa yang akan kita tuai kelak, tergantung apa yang telah kita semai hari ini di kebun kita. Seberapa baik mutu hasil kebun sangat ditentukan oleh mutu benih. Ciri-ciri benih yang bermutu baik, antaranya adalah tidak mengandung bibit penyakit, potensi atau daya kecambah yang tinggi (viabilitas), tahan terhadap serangan hama pengakit dan cekaman faktor lingkungan yang ektrim, serta memberikan hasil panen (produktivitas) yang tinggi. Namun, sebaik apapun mutu benih, ia niscaya tidak akan tumbuh secara optimal jika di tanam pada media (lahan) kebun yang tercemar. Bahkan jika lahan itu tercemar berat, benih tadi tidak akan tumbuh sama-sekali.
Persoalan yang diteroka oleh Sarjana Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau melalui buku Perdana nya ini, tidak lain adalah seperti ilustasi sekolah sebagai “kebun masa depan anak bangsa” yang saya narasikan di muka. Ketidakjujuran dalam Ujian Nasional (UN) itu ibarat benih (peserta didik) yang sengaja kita selaputi dengan bibit penyakit (karakter tidak jujur alias pembohong). Benih itu pula yang akan kita siram, pupuk, dan rawat dengan kemunafikan secara berkelanjutan melalui proyek pembosaian perserta didik bernama try out. Bila tukang kebun amatiran yang bekerja membangun budaya mediokritas (budaya gampangan) dan machiavellis (tujuan menghalalkan segala cara) ini tidak lekas insyaf dan segera menghentikan kebebalannya ini, maka siap-siap lah kita menyambut kelahiran Generasi Pembohong yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Bukankan kita semua mendambakan pemimpin yang; jujur, bersemangat juang tinggi, berani menghadapi berbagai tantangan dari luar yang mengancam kelangsungan hidup bangsa, Cerdas dan Kompetitif?
Bahwa UN itu perlu memang tidak dinafikan. Akan tetapi massifikasi mindset UN sekan-akan menjadi barometer utama mutu pendidikan nasional adalah tidak sejalan dengan harapan pendidikan universal. Try Out untuk mengenjar target Prosentase Angka Kelulusan itu hanyalah Learning How To Do. Sementara tujuan hakiki pendidikan itu adalah Learning How To Be. Jika semata-mata hendak mengejar angka 100% kelulusan, ubah saja semua sekolah (Lembaga Pendidikan) menjadi Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Peserta didik bukan ANGKA melainkan MAKNA.
Di tengah-tengah berkecamuknya Perang Dunia I, Albert Einstein (Alice Caprice, 2002) secara emosional telah mengeluarkan himbauan kepada Pemerintah Jerman melalui artikel berjudul “Nightmare” (mimpi buruk) yang terbit pada Hari Natal 1917. Dia mengecam atas kewajiban mengikuti ujian nasional bagi murid sekolah menengah di Jerman waktu itu, karena menurutnya seorang guru dapat menilai kedewasaan dan kemampuan muridnya jauh lebih baik dalam selang waktu dan interaksi yang cukup lama dibanding dengan ujian akhir yang waktu dan persiapannya lebih singkat. Ujian tersebut berdampak tidak baik karena dua alasan: (1) murid merasa takut atau tegang menghadapi ujian akhir karena masa depannya bergantung pada hasil ujian tersebut, dan (2) upaya yang melibatkan kewajiban menghafal bahan pelajaran yang begitu banyak dapat membahayakan kesehatan murid dan sering menyebabkan timbulnya mimpi buruk di kemudian hari. Aspek kedua diperparah oleh kenyataan bahwa proses pembelajaran banyak dibebankan pada tahun terakhir di sekolah. Ketika guru-guru memberikan perhatian yang lebih besar kepada gengsi nilai akhir, mereka semakin bergantung pada try out dan kurang menekankan pada proses pembelajaran itu sendiri. Einstein, akhirnya menyimpulkan bahwa penekanan yang berlebihan pada latihan (baca: Try Out) akan merusak rasa keingintahuan murid dan keunikan pribadi-suatu nilai yang paling berharga yang dapat ditumbuhkan dan yang seharusnya dipelihara dan ditekankan dalam proses pendidikan.
Founding Father kita-Soekarno (Taufik Adi Susilo, 2008) juga telah menandaskan bahwa pendidikan merupakan arena untuk mengasah akal, dan mengembangkan intelektualitas. Dia menyebutnya sebagai “renaissance-paedagogie”, yaitu bagaimana mendidik untuk bangkit. Sejak 1997 hingga sekarang, Singapura sebagai negara kecil yang menjadi “Red DOT in the Map” mulai fokus pada kebijakan pendidikan untuk menghasilkan generasi muda yang tidak kalah dari negara-negara maju lainnya. Itu dilakukan dengan pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi dan kemampuan siswa di era digital.
Persoalan mendasar dunia pendidikan Indonesia inilah sebetulnya yang merisaukan hati penulis buku ini sehingga mengukuhkan AZAMnya untuk terus menyuarakan kebenaran melalui tulisan-tulisanya yang renyah. Guru Pendidikan Kimia—Anak jati Pulau Singkep Kabupaten Lingga yang sarat prestasi tetapi dinyatakan Tidak Lulus dalam Seleksi CPNS di kabupatennya sendiri tahun 2010 lalu—dimata saya adalah “Cahaya Pelita Lingga” yang masih tertutup oleh “Tabir Chauvinisme Otonomi Daerah” sehingga Pemerintah Daerah tak mampu membaca peta potensi modal insan yang ada di daerahnya sendiri. Kini, dia mengabdi secara tulus menjadi Guru Honor Komite di sebuah SMA Kelas Jauh di Pulau Selayar tanpa honor yang jelas. Sejak menjadi mahasiswa di bangku kuliah, dia yang juga aktivis produktif ini telah berjaya memenangkan aneka lomba karya tulisa ilmiah, mulai dari tingkat jurusan, fakultas, universitas, wilayah, sampai ke tingkat nasional. Tulisan-tulisannya terus menghiasi halaman media lokal, regional, bahkan nasional. Tidak banyak guru Kimia di Indonesia yang memiliki karakter infopreneur seperti penulis buku ini. Atas dasar semua prestasi yang cemerlang, gemilang, dan terbilang yang dibuktikannya itu, maka buku yang menyuarakan kejujuran melaui fenomena Ujian Nasional ini pantas untuk disimak oleh setiap anak bangsa yang masih memiliki hati nurani menuju Indonesia Jaya. Syabbas dan Tahniah!.