Memang betul bahwa Mahasiswa adalah asset bangsa! Tapi Itu hanya berlaku jikalau eksistensinya memberikan nilai tambah terhadap peningkatan daya saing perguruan tinggi maupun daya saing bangsa. Bagaimana jika tidak? Pastilah Anda menjadi beban, baik bagi diri sendiri apatah lagi bagi masyarakat-negara dan bangsa. Lalu, apa langkah pertama Apa yang mesti dilakukan agar nilai tambah Anda meningkat? Menyadari dan menginsyafi bahwa meningkatkan nilai tambah itu merupakan tanggung jawab Anda yang memikul amanah dari orang tua untuk belajar betul-betul dengan semangat penuh membara sehingga kelak menjadi Sarjana yang liat dan tahan banting sebagai cerminan dari karakter Enterpreneur! Sebab, mahasiswa yang kaya bukanlah mahasiswa yang hidup dari warisan orang tua atau memiliki harta berwujud (tangibles) seperti emas, intan/berlian, kayu, kelapa sawit, timah, pasir, belacan dan sebagainya, melainkan mahasiswa yang membangun kualitas-kualitas yang tak terlihat wujudnya (intangibles) melalui aktivitas perkuliahan yang sungguh-sungguh, seperti disiplin, kerja keras, jujur, dan bertanggungjawab sebagai fondasi wirausaha, kepemimpinan, dan perubahan (Rhenald Kasali, 2010).
Karakter entrepreneur yang dibangun melalui kekuatan intangibles itu, ternyata tidak lahir begitu saja, melainkan harus dibentuk melalui integritas, komitmen, dan disiplin, secara konsisten. Integritas diwujudkan melalui sikap untuk memegang amanah yang diberikan secara sungguh-sungguh dan konsisten. Komitemen adalah ketekunan dan kebulatan tekad untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Untuk menjaga komitmen diperlukan kedisiplinan yang tinggi. Disiplin atau tidak disiplin bukan masalah keturunan. Itu hanya masalah kebiasaan. Kebiasaan yang terus diulangi, dipantau, dan diperbaiki sesuai dengan perubahan lingkungan akan meningkat menjadi kebiasaan dalam belajar. Akhirnya kebiasaan belajar yang terbentuk itu akan memberihan Anda sebuah hadiah (reward) berupa Kunci meraih keyajaan yaitu Budaya Disiplin. Budaya disiplin ini akan sangat menentukan kualitas elemen pengungkit nilai tambah, yaitu sumberdaya, idea (gagasan), relasi (network), dan keahlian (exspertise) yang kesemuanya itu dapat gali dari kawah candradimuka bernama KULIAH!.
Celakanya; dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sebagian besar energi mahasiswa dikuras untuk membangun Budaya Mediokritas melalui demonstrasi tak berkesudah ketimbang membangun Budaya Displin membangun Intangibles internal yang melekat pada tangan, kaki, hati, dan pikiran mahasiswa. Wahai aktivis kampus, perubahan tak akan berhasil sebelum Anda berhasil mengubah Cara berfikir dan perubahan yang kekal serta berfondasi kuat adalah perubahan yang dibangun di atas fondasi intangibles. Renungkanlah nasehat Vince Lombardi bahwa “Setiap orang punya hak untuk jadi pemenang, tetapi sedikit sekali yang mempersiapkan dirinya sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang”. Belajarlah secara konsisten dan betungkus lumus lah untuk meraih kemahiran-kemahiran baru (new skills) sebagai bekal untuk mengubah takdir Anda meraih kecemerlangan. Sebab intangibles tidak dengan serta merta dapat dimiliki. Ia membutuhkan waktu untuk ditumbuhkan dan tak dapat diperoleh dalam tempo sekejap apatah lagi belajar asal asalan atau sekedar belajar. Ia tidak cukup dengan sekedar latihan-latihan bisa, melainkan latihan luar biasa (deep practice). Coyle (2009) menandaskan bahwa untuk memiliki World Class Skill, dibutuhkan Deep Practice selama tidak kurang dari 10.000 jam, dan ini sangat dimungkin dilakukan selama siklus pendidikan di Perguruan Tinggi secara intensif.
Hanya mahasiswa yang memiliki modal intangibles lebih besar yang berhasil melakukan perubahan dan meraih reputasi dan brand images sebagai Enterpreneur. Namun untuk menjadi intangibles dibutuhkan lebih dari sekedar disiplin individu, akan tetapi juga disiplin kolektif civitas akademika. Dan itu sekali lagi kita membutuhkan culture of discipline melalui transformasi budaya akademik. Penghambat kemajuan diri bukanlah karena kekurangan-kekurangan yang kita miliki, tetapi lebih karena tidak adanya keyakinan yang kuat dan sikap pantang menyerah serta azam mewujudkan visi individu maupun organisasi. Untuk membangun karakter Entrepreneur para mahasiswa di Perguruan Tinggi, tidak cukup hanya melalui sebuah mata kuliah Kewirausahaan, namun setiap individu Dosen mesti melakukan transformasi diri menjadi nukleus reaktor transformatif modal insan. Dalam perspektif itulah, Shaping academic leadership dirasa mendesak untuk digesa dalam bingkai transformasi budaya akademik agar kelak dapat meluluskan Mahasiswa berkarakter tangguh menghadapi pusaran arus globalisasi yang mempertaruhkan talenta kompetitif. Inilah agaknya esensi Tema peringatan Hardiknas Tahun 2010 yaitu “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”. Dalam perjalanan Pendidikan Nasional, rancangan sistem pendidikan yang begitu utuh, menyeluruh, dan terpadu, ternyata hanya menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan Mahasiswa, kurang fokus kepada masalah pembinaan Karakter Mahasiswa. Sebab itu sekarang ini kita kebanjiran Dosen yang pandai Mengajar (teach) tetapi Kurang Lihai dalam Mendidik (educate/Scholarship of Teaching).
Hasilnya apa? “Setiap tahun dihasilkan > 300.000 lulusan Perguruan Tinggi . Namun pengangguran intelektual terus meningkat dari 6,16 persen tahun 2006 menjadi 7,02 persen di tahun 2007 (KOMPAS, 11/2/2008)”. 75, 28 persen dari lulusan perguruan tinggi ternyata bekerja sebagai Buruh/Karyawan/Pegawai. Sementara yang berusaha dibantu buruh tetap/dibanyar 5, 17 persen, yang berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibanyar 7,12 persen, dan berusaha sendiri tanpa buruh hanya 6,12 persen. Bahkan ada pekerja yang tidak dibayar sebesar 5, 46 persen. Fakta status pekerjaan lulusan perguruan tinggi tersebut merefleksikan betapa urgennya upaya peningkatan nilai tambah mahasiswa melalui pengembangan karakter entrepreneurship yang sekaligus juga dapat memperbaiki citra perguruan tinggi dan peningkatan daya saing lulusan.
Tugas kita sebagai Dosen yang Pendidik adalah membantu para Mahasiswa agar mereka mampu menemukan faktor Pemicu pengembangan diri masing-masing. Caranya adalah memfungsikan kembali peran dosen sebagai Fasilitator, Motivator, dan Manager Perubahan melalui kemasan pembelajaran yang memikat dan lebih berpusat pada mahasiswa dengan penuh integritas, komitmen, dan disiplin. Tanpa Budaya Disiplin, tak ada masa depan, tak ada respek, dan tak ada kemajuan. Tanpa Budaya Disiplin, intagibles yang dapat dimobilisasi untuk merakit perubahan meraih kecemerlangan tidak akan terbentuk. Universitas bisa hidup, bisa mati. Mahasiswa yang mesti berubah mindsetnya pun bisa saja mati, termasuk Dosen dan Pegawai. Namun tanpa intangibles, semuanya tak akan ada perubahan yang signifikan. Tanpa perubahan, tak kan ada pembaharuan. Karenanya diperlukan Spirit of Entrepreneurship. Mahasiswa Entrepreneur adalah mahasiswa yang merasa hidupnya kurang nyaman dengan kondisi sekarang dan berani berselancar di atas gelombang ketidaknyaman itu. Agar terus bersemangat, maka jangan batasi tantangan yang Anda hadapi, tapi tantang lah keterbatasanmu. Jadi, “Belajar lah betul-betul sampai mati…!”***
3 Comments
Assalammu’alaikum. Wr. Wb.
Prof.Firdaus yang Exellence, membaca artikel Prof. sungguh sangat luar biasa. Saya semakin termotivasi untuk menjadi mahasiswa yang Macam Pulut.Terima Kasih.
ass,prof.saya terdiam macam pulut membaca artikel prof,membuat saye jadi sangat termotivasi untuk kuliah lagi,saya sangat senang bise kenal prof. lebih dekat,dan saye lebih termotivasi dengan cerite perjalan pendidikan prof. saye berharap bise mengikuti jejak langkah prof.
two thumbs up, prof..!!